Apr 3, 2013

Karya Tulis Ilmiah Bagi Guru, Antara Tuntutan Karir dan Manfaatnya Untuk Kelas.

Terlibat dalam proses Sekretariat Penentapan Angka Kredit Guru Bagi Golongan IV ke atas membuat saya bertemu dengan sekian banyak guru dengan segala keluh kesahnya terumata terkait dengan karir kepangkatan mereka. Masalah utama adalah sulitnya memenuhi persyaratan nilai dalam bidang pengembangan profesinya dimana guru dituntut untuk membuat karya tulis ilmiah yang dipublikasikan.

Sekilas ketentuan yang mewajibkan guru menulis ini nampak bagus. Dengan menulis, terutama menulis karya tulis ilmiah, diharapkan guru dapat mengembangkan kemampuan kreatifnya dan selalu meng-update pengetahuan dan kemampuan mengajarnya terutama dengan model-model pembelajaran yang lebih efektif. Namun, pada kenyataannya terdapat sekian masalah.

"Produk Lama"
Guru yang telah memiliki pangkat IV/A ke atas sebagian besar adalah produk lama yang memiliki rata-rata kemampuan menulis yang kurang memadahi. Hal ini perparah dengan minimnya dalam kemampuan metodologi ilmiah maupun dari kemampuan menggunakan teknologi informasi terkini. Hal itu menyebabkan kesulitan tersendiri bagi mereka dalam mengemukakan gagasan dalam tulisan apalagi yang berbentuk tulisan ilmiah. Selain itu, sebagian dari mereka berkilah bahwa guru terbebani dengan banyaknya tugas, terutama mereka yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi dengan kewajiban minimal tatap muka 24 jam perminggu, sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk menulis.

Belum Menjadi Kebutuhan
Orientasi yang hanya pada kenaikan karir guru, bukan pada peningkatan kualitas pengajaran. Hal ini menjadi pengahalang bagi produktivitas guru dalam hal berkarya tulis. Membuat karya tulis masih menjadi beban demi memenuhi syarat administratif kenaikan pangkat. Padahal sejatinya karya tulis bila dihasilkan dari usaha terstruktur dari seorang guru dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran di kelas akan menjadi mudah, karena proses penulisan itu menjadi seiring dengan proses mengajarnya. Tidak mengada-ada.


Baca dulu, baru menulis
Masalah lain adalah masalah pada pola pembinaan yang selama ini dilakukan oleh sebagian yang berkecimpung dalam hal ini. Pola pembinaan yang dilakukan masih terlalu berorientasi pada hasil. Saya beberapa kali menjumpai forum pembinaan penulisan karya tulis yang dilakukan dengan cara langsung pada masalah tatacara penulisan. Padahal masih ada masalah yang lebih mendasar dari pada sekedar tatacara penulisan. Yaitu pada cara guru menemukan persoalan. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara mengupdate pengetahuan guru itu sendiri dengan cara membaca. Ibarat proses produksi, proses produksi yang dipaksakan. Tidak ada bahan pokok, tapi dipaksa berproduksi.


Masalahnya Pada Kebijakan
Kebijakan yang tidak disertai dengan pembinaan yang memadahi dan mekanisme penilaian yang transparan. Kebijakan yang mengharuskan guru menulis karya tulis ilmiah ini seolah nampak bagus. Namun jika kita perhatikan lebih dalam nampak bahwa kebijakan ini tidak komprehensif. Kebijakan ini mengasumsikan kemampuan guru sama disemua tempat. Pada kenyataannya tidak semua guru pada jenjang yang sama, bidang yang sama memiliki kemampuan yang sama. Hasil Uji Kompetensi Guru yang dilakukan pemerintah pada tahun 2012 lalu membuktikan hal itu. Dengan kenyataan tersebut kita tidak bisa menuntut hal yang sama untuk setiap guru sebelum dilakukan pembenahan kualitas guru sesuai dengan kondisi masing-masing.

Selain itu masalah ketersediaan sarana akses informasi bagi guru untuk dapat berkembang juga dianggap sama. Akses informasi untuk mereka yang berada di wilayah perkotaan dengan di perdesaan tentu sangat berbeda. Bagaimana mungkin guru yang berada di pelosok nun jauh dari akes internet misalnya, dituntut untuk mampun menulis karya tulis ilmiah berupa jurnal.


Mekanisme Penilaian yang Tidak Transparan
Hal lain yang cukup menjadi titik lemah adalah pada mekanisme penilaian. Mekanisme penilian yang selama ini ada belum semua dilakukan secara transparan. Misal untuk syarat kenaikan pangkat dari IV/A ke IV/B proses penilaian yang dilakukan terhadap karya tulis mereka masih dilakukan secara tertutup. Karya tulis tidak diseminarkan atau dipaparkan oleh penulis. Hanya penilaian yang dilakukan dari belakang meja. Hasilnya hanya ada tiga kategori. Lulus mendapat nilai penuh. Tidak lulus dengan nilai rentang. Dan tidak lulus dengan nilai nol. Bagi mereka yang tidak lulus, mendapat rekomendasi untuk memperbaiki atau membuat ulang. Namun tidak mendapat penjelasan yang mendatail bagian mana yang perlu diperbaiki atau bagian mana yang menjadikan tulisannya tidak dapat diterima oleh tim penilai. Penjelasan dalam surat hasil penilain hanya berisi penjelasan mengenai kerangka umum penulisan. Guru dalam hal ini tidak mendapatkan ruang untuk menyampaikan gagasan dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah disampaikan dalam tulisannya.

Dengan demikian perlu kira perubahan pola dari sekedar menuntut guru untuk menulis, tapi lebih dari itu, guru harus menjadikan aktivitas menulis ini bagian dari peningkatan kualitas pengajaran di kelas yang berujung pada meningkatkan proses belajar siswa.

Gambar dari sini


Apr 2, 2013

Semrawutnya Lalu Lintas Kita. Gejala Apakah Ini?


Dua tempat yang menurut saya menjadi tempat "favorit" bagi pengendara untuk berlaku semrawut. Perempatan atau pertigaan yang dilengkapi dengan "traffic light" dan pintu perlintasan kereta api. Entah apa yang menjadi pertimbangan pelakunya sehingga melakukan hal-hal yanng menurut hitungan saya juga tidak akan mempercepat dia sampai tujuan secara signifikan. Misal, mencuri start lampu hijau. Tidak berhenti walau lampu seudah jelas hijau. Mengambil lajur sebelah kanan pada saat antri di pintu perlintasan kereta pada saat antre saat kereta melintas, yang jelas-jelas jalur itu diperuntukkan bagi kendaraan dari arah berlawanan. 

Pernah suatu ketika saya melihat "kegilaan" yang menurut saya sangat tidak layak untuk dilakukan. Seorang bapak mengendarai sepeda motor dengan seorang anak kecil dan seorang perempauan yang mungkin saja itu adalah anak dan isterinya, memaksa mencuri start di perempatan pada saat lampu masih merah. Nyawa taruhannya! Bukan saja nyawanya, tapi nyawa si anak dan siperempuan itu.

Suatu ketika, juga pernah mengalami yang tidak mengenakkan di sebuah perempatan yang bertuliskan "Belok Kiri Ikuti Lampu". Saya dengan tenangnya berhenti paling depan. Samping sebelah kanan saya berhenti juga sebuah mobil. Tiba-tiba sebuah mobil tak henti-hentinya mengklakson saya agar meberi jalan untuk dia terus melaju belok kiri. Karena saya sadar penuh dengan larangan belok kiri langsung, saya sama sekali tidak menindahkan klakson mobil tersebut. Namun betapa kagetnya saya ketika tiba-tiba mobil teresebut memaksa melintas dengan cara manaikkan roda sebelah kiri ke atas trotoar hingga bisa melaju terus. Astaghfirullah. Saya hanya bisa menggelengkan kepala. Betapa tidak sabarnya pengendara itu. 

Kejadian macam ini bukan sekali dua kali saya lihat, tapi hampir tiap hari terjadi. Mungkin masih banyak lagi yang tidak saya lihat secara langsung.Kejadian macam ini tidak hanya dilakukan oleh pengendara sepeda motor, tapi juga mobil. Tidak hanya pengendara laki-laki, tapi juga perempuan, tua dan muda. Dengan seragam apapun. Seragam umum, PNS maupun seragam Polisi. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di sini, kota Bandar Lampung, kota yang masih kecil dibandingkan dengan Jakarta. Apakah ini lebih karena infrastruktur kota yang kurang memadahi? Penegakan hukum bagi pelanggar hukum lalu lintas yang tidak sepenuhnya berjalan? Atau ini juga sudah menjadi penyakit sosial? Wallahu a'lam. 

Mar 15, 2011

FOSS untuk Pendidikan Kita, Mengapa Tidak.

Saya masih teringat dengan kejadian yang cukup menggelikan sekaligus membuat saya miris. Kejadian sewaktu menjadi panitia diklat penguatan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang diselenggarakan di instansi saya bekerja. Waktu itu adalah kegiatan kedua dimana peserta wajib mengumpulkan hasil kerja mereka dalam bentuk “print out” maupun dalam bentuk file presentasi dengan menggunakan media keping CD. Pada saat satu persatu peserta maju mempresentasikan hasil kerja mereka, saya menemukan file dengan judul power point. Namun yang membuat saya geli karena ikon file tersebut bertuliskan “W” dan berekstensi “Doc”. Lebih menggelikan lagi ketika saya buka file tersebut, ternyata hanya berisikan satu halaman dan bertuliskan “PowerPoint”. Rupanya itu bukan satu-satunya, masih ada lagi kejadian serupa meskipun kondisinya tak separah kasus tersebut diatas.

Dalam perkiraan saya, salah kaprah ini terjadi akibat seringkali (bahkan mungkin selalu) para pengajar atau tenaga pendidik mengajarkan atau meminta peserta didik mengerjakan tugas presentasi dengan istilah “PowerPoint”. Padahal kita tahu bahwa powerpoint hanya salah salah satu nama software untuk presentasi dari sekian banyak software presentasi.

Kalau kalo kita perhatikan, rupanya kejadian diatas hanya gejala saja dari persoalan lain yang lebih mendasar lagi. Persoalannya adalah masih dominannya penggunaan salah satu software, sebut saja software buatan Microsoft. Software ini sejatinya adalah software komersial dan tertutup atau dalam bahasa lain dikenal dengan istilah proprietary software. Namun di Indonesia software ini sangat umum dipakai bahkan dengan jalan membajaknya. Hal ini dikarenakan tidak tegasnya pemerintah dalam hal pemberantasan penggunaan software bajakan baik dari sisi penegakan hokum maupun dari sisi edukasi kepada masyarakat. Hal ini seringkali membuat masyarakat meresa tidak ada persoalan dengan software yang dipakai sehari-hari.

Dominasi penggunaan software propritery baik yang legal maupun yang bajakan masuk kedalam berbagai sector termasuk dalam sektor pendidikan. Dominasi dalam dunia pendidikan bias dengan mudah kita rasakan, dimana peserta didik seringkali diberi pengetahuan tentang berbagai macam software komputer dengan langsung mengenalkan pada salah satu produk tertentu. Sebagai contoh, pengajaran tentang sistem operasi seringkali langsung dikenalkan pada sistem operasi Microsoft Windows. Contoh lain, ketika pengajaran mengenai aplikasi word prosesor siswa seringkali langsung dikenalkan dengan Mirosoft Word. Tak hanya produk Microsoft saja sebenarnya yang marak diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, produk-produk komersial lain juga marak diajarkan seperti Corel dan Adobe. Sehingga bisa disimpulkan bahwa yang menadi dasar pengajaran hanya pada apa yang sudah umum dipakai.

Kondisi seperti ini tentunya akan sangat merugikan bangsa kita kedepan. Barangkali tidak sekarang, namun di masa yang akan datang kerugian itu baru akan terasakan. Ketergantungan kita pada salah satu software komersial akan sangat membatasi peningkatan kemampuan kita terhadap berbagai jenis software. Misalkan saja, suatu saat Microsoft benar-benar mendesak pemerintah RI untuk memberantas pembajakan Microsoft di Indonesia maka bisa dibayangkan betapa kagetnya mereka yang sudah sangat tergantung dengan produk tertentu. Berapa biaya yang harus tiba-tiba dikeluarkan untuk membeli semua lisensi agar tetap dapat menggunakan software tertentu tersebut. Dari lisensi sistem operasinya hingga lisensi software aplikasinya. Belum lagi jika pembalasan datang pada sektor lain. Dengan mendasarkan pada TRIPS (The Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) bisa saja suatu Negara yang merasa dirugikan akibat produknya banyak dibajak oleh negara lain melakukan pembalasan di sektor lain.

Kerugian lain yang tak kalah berbahanya adalah terkungkungnya kreativitas bangsa kita. Mereka yang selalu terbiasa menggunakan software komersial tertentu pada level yang minimal tidak terbiasa menggunakan softrware lain atau merasa tidak bisa bekerja jika dihadapkan dengan tools yang menggunakan software selain buatan Microsoft. Bahkan yang lebih parah lagi mereka tidak pernah tahu bahwa ada software alternative selain yang sudah terbiasa mereka pakai.

Dengan kondisi diatas dan ancaman kerugian tadi, maka sudah saatnya dunia pendidikan di negeri ini untuk memulai mengubah cara pengajaran kepada peserta didik untuk juga mengenalkan berbagai alternative software. Lebih penting lagi untuk mengenalkan free open source software. Ketika seorang tenaga pendidik mengenalkan kepada peserta didik mengenai sistem operasi sudah saatnya untuk mengenalkan kepada mereka bahwa sistem operasi terdiri dari berbagai macam jenis. Salah satunya adalah linux. Dengan juga mengenalkan kelebihan dan kekuranganya.

Bukan Soal Gratisnya.

Free Open Sourcce Software sendiri menjadi pilihan terbaik untuk saat ini untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap software-software propietary seperti buatan Microsoft. Bukan hanya persoalan legalitas dan harga, namun lebih pada nilai etis dan semangat yang dibawa oleh free open source. Dalam dunia software sendiri dari aspek lisensi dikenal dua jenis software, propritery software dan free open source software (FOSS). Proprietary software adalah software yang menerapkan lisensi tertutup dimana pembeli tidak memiliki hak untuk melakukan modifikasi dan penggandaan serta penyebaran kembali software yang telah dibelinya. Sementara FOSS adalah software yang menerapkan lisensi terbuka dimana pengguna atau siapapun berhak menggunakan, memodifikasi dan mendistribusikan kembali.

Software proprietary lahir sebagai produk komersial, dibuat dengan cara tertutup, tidak memberi kebebasan bagi pihak lain untuk mengubah atau memodifikasi apalagi menyebarluaskan. Umumnya dengan menggunakan instrumen HAKI, vendor software proprietary mengeruk keuntungan dari penjualan dan tidak memberi kebebasan atas barang yang telah dibeli oleh seseorang. Sementara free open source lahir sebagai alterbatif bahkan sampai level tertentu sebagai perlawan atas dominasi software propietary. FOSS memberi jaminan kebebasan pada siapapun untuk melakukan akses terhadap source code dan melakukan modifikasi terhadap suatu software dan menyebarkan kembali.

Dari sini nampak bahwa persoalannya adalah bukan semata-mata pada berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh seseoarang atau suatu lembaga untuk mengadakan dan menggunakan sautu software, tapi lebih pada aspek nilai sosial yang terkandung. Mungkin bagi mereka yang berkecukupan, uang bukanlah persoalan, sehingga software semahal apapun dalam dibeli.

Sudah saatnya bagi siapapun yang memiliki konsern dan terlibat langsung dalam dunia pendidikan untuk setidaknya mengenal bahwa tidak hanya ada Ms Power Point untuk membuat presentasi tapi juga ada Impress dari OpenOffice yang gratis. Selain itu masih banyak lagi berbagai software yang gratis ataupun terbuka sebagai pengganti atau setidaknya alternatif bagi software proprietary. Demikian juga denga sistem operasi. Linux adalah salah satu software sistem operasi FOSS yang telah berkembang dengan pesat akhir-akhir ini. Linux dapat berkembang dengan begitu cepat dikarenakan lisensi yang digunakan adalah lisensi bebas, sehingga tidak hanya efisien, tapi juga telah memamdaikan begitu banyak orang karena memungkinkan keterlibatan begitu banyak orang dalam proses pembuatannya.


Feb 23, 2010

Guru Profesional dan Plagiarisme

Oleh Mochtar Buchori

Kasus 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai ”guru profesional” sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?

Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan ”guru profesional” tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.

Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel ”profesor” sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.

Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.

Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria ”guru profesional” akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan ”profesional”. Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.

Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi ”kecintaan belajar” (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan” (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi ”kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan” (love for sharing knowledge and ignorance).

Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.

Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: ”If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool”. Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.

Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.

Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.

Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.

Tentang plagiat

Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya ”meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin”. Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?

Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?

Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan ”guru profesional” beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!

Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi ”guru profesional” seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat ”karya ilmiah” itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa ”karya ilmiah” adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.

Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.

Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.

Mochtar Buchori Pendidik

Sumber: http://cetak.kompas.com/

Feb 17, 2010

Internet dan Tanggung Jawab Pendidikan

Facebook akhir-akhir ini menjadi salah satu sorotan masyarakat. Kita tentu masih ingat dengan kemunculan group di Facebook yang mendukung Bibit dan Candra. Group ini adalah bukti nyata dampak positif dari kemunculan situs jejaring sosial. Masih banyak lagi group group lain yang menjadi wadah penyaluran aspirasi publik yang kini entah berapa banyak jumlahnya.

Namun baru-baru ini facebook kembali menjadi sorotan publik setelah terjadi beberapa kasus kejahatan melalui media facebook. Sekarang ini pemerintah mengeluarkan rancangan peraturan pemerintah tentang pengaturan konten multimedia. Pemerintah menyatakan, seperti dikutip Kompas Tekno, bahwa salah satu tujuan peraturan ini adalah untuk melindungi untuk melindungi kepentingan umum dari gangguan sebagai akibat dari penyelahgunaan informasi elektronik, dokumen elektronik, dan transaksi elektronik yang megganggu kepentingan umum.

Rancangan peraturan pemerintah ini menuai kontroversi karena dianggap membelenggu demokrasi di ranah media internet. Selain itu pengaturan konten yang mewajibkan ISP memfilter konten membuat proses pendewasaan bagi pengguna terhambat, sebab tidak menuntut tanggungjawab pada pelaku pembuat konten melainkan lebih menekankan tanggungjawab kontrol pada penyedia jasa akses internetnya. Ibaratnya pengguna handphone tidak bertanggungjawab terhadap percakapannya tapi penyelenggara operator HP lah yang harus mengatur percakapan apa saja yang boleh dilakukan oleh pengguna HP.

Saya tidak akan membahas lebih jauh soal
Rancangan Peraturan Menteri (RPM) dan berbagai aturan yang mungkin akan dikeluarkan oleh pemerintah, namun saya akan lebih memfokuskan pada bagaimana pengguna internet terutama mereka yang masih masuk kategori pelajar memperoleh pendidikan yang mendewasakan sehingga tidak akan terjerumus dalam perilaku yang tidak bertanggungjawab dan lebih-lebih menjadi korban perilaku tersebut. Berbagai kasus penyalahgunaan facebook dan mungkin jejaring sosial maya lainnya yang terjadi di kalangan pelajar dalam hal ini bisa dilihat sebagai kegagalan institusi pendidikan menghadapi kemajuan teknologi informasi.

Dari pengamatan singkat saya di daerah pinggiran seperti tempat saya berdomisili yang sekolahnya tidak memiliki perangkat internet yang memadai, siswa-siswa sekolah itu mengenal internet bukan dari sekolah melainkan dari fasilitas umum seperti warnet atau bahkan HP. Apalagi dengan kemunculan berbagai produk handphone yang memiliki fitur akses internet dengan harga yang semakin murah. Dengan kondisi tersebut, sekolah tentunya bisa dikatakan memiliki peran terbatas dalam proses edukasi siswanya dalam hal penggunaan internet yang aman dan sehat. Belum lagi jika kita telilti tentang bagaimana kemampuan tenaga guru dalam hal teknologi informasi. Tak usah jauh-jauh, kemampuan-kemampuan dasar berinternet saja masih sangat banyak guru yang tak menguasainya. Dengan kondisi seperti ini bagaimana mungkin sauatu isntitusi pendidikan mampu melakukan kontrol terhadap siswa-siswanya.

Dalam bayangan saya, andai para guru menguasai internet, dan tentunya mengerti tentang jejaring sosial dunia maya salah satunya, tentu dapat dengan mudah sang guru dapat melakukan edukasi kepada siswa denagan lebih baik. Bisa saja guru mewajibkan siswanya untuk memasukkan guru tersebut dalam daftar teman di facebook siswanya. Dengan demikian siswanya lebih terkontrol melalui facebook, setidaknya guru dapat ikut 'mengendalikan' perbincangan siswa-siswanya.

Untuk itu perlu usaha yang lebih tersistematis dari para pelaku pendidikan dan tentu saja pemerintah untuk meningkatkan kapasitas teknologi informasi para guru dan tenaga pendidik. Perbaikan sistem pendidikan calon guru dan tenaga pendidik tak bisa dipungkiri lagi harus diperbaiki. Program internetisasi sekolah menjadi tak banyak berarti tanpa di barengi dengan peningkatan kapasitas tenaga operatornya. Evaluasi terhadap berbagai metode yang diterapkan oleh pemerintah selama ini dalam peningkatan kapasitas tenaga pendidik perlu dievaluasi. Tak bisa lagi pelatihan calon kepala sekolah hanya dilaksanakan hanya dalam seminggu untuk menjadikan seorang yang memiliki berbagai kecakapan seorang tenaga pendidik yang handal.

Tulisan ini tidak didasarkan pada suatu penelitian ilmiah, namun saya kira pembaca sepakat bahwa peran pendidikan sangat penting untuk menyelamatkan anak-anak kita dari berbuat hal perilaku yang tidak bertanggungjawab dengan menggunakan media internet apalagi menjadi korban atas perilaku tersebut. Terlalu banyak fungsi positif dari internet yang bisa diambil dan dijadikan sebagai sarana untuk membentuk mesyarakat yang "well infromed". Hal itu tidak bisa dilakukan dengan menakut-nakuti penggunanya tapi mendidiknya.

Ket:
Gambar diambil dari sini

Jan 31, 2010

Sistem Operasi untuk Belajar Internet Tanpa Koneksi Internet

SchoolOnffLine adalah sebuah Distro / LiveDVD turunan dari Sabily atau Ubuntu yang di tujukan untuk sekolah / pelajaran Internet. Dalam SchoolOnffLine terdapat Server Web, e-learning Moodle, Blog Wordpress, Wiki, Digital Library, e-mail, Webmail, File Sharing (SAMBA), Ubuntu Repository Server Lokal, Chatting Server. Dengan menggunakan SchoolOnffLine sebuah sekolah dapat memberikan pelajaran komputer / Internet tanpa perlu online ke Internet.
Bahkan jika di perlukan untuk demonstrasi LiveDVD SchoolOnffLine dapat digunakan di komputer tanpa mengganggu software yang ada di harddisk komputer tersebut. SchoolOnffLine dapat juga di install ke harddisk untuk penggunaan yang lebih permanen.


Untuk spesifikasi lebih lengkap lihat disini
Untuk mendownloadnya disini


Jan 21, 2010

Download Buku "Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis"

Buku Laskar Pelangi menghentak khalayak, menggugah para guru, menginspirasi jutaan pembaca, menghardik dunia pendidikan di negeri ini. Asrori S. Karni menyebutnya The Phenomenon.

Seto Mulyadi mengatakan novel ini menunjukkan pada kita bahwa “pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekedar memberikan instruksi dan komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul …..”.

Buku Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis barangkali dapat melengkapi gambaran tentang bagaimana anak bila diberikan perlakuan yang tepat (memberikan hati seperti disampaikan Kak Seto) dan kesempatan untuk berpartisipasi maka anak-anak dapat menjadi subyek/pelaku perubahan sosial yang luar biasa. Buku ini memberi fakta-fakta, pengalaman di berbagai tempat dan berbagai lapangan yang sangat kaya dimana anak-anak tumbuh kembang kesadaran kritisnya dan sungguh menjadi subyek perubahan sosial.

Selamat membaca buku terbitan insist yang sangat baik

Salam hangat
Andreas Iswinarto


Sumber : www.insist.or.id

Hingga saat ini, belum ada wacana yang terintregasi menyangkut partisipasi anak-anak. Perdebatan seputar partisipasi cenderung didasarkan hanya pada opini, anekdot, dan kenangan romantis masa kanak-kanak daripada bukti-bukti yang konkrit.

Berbagai program penelitian tentang peran dan persfektif anak-anak telah dilakukan di seluruh dunia untuk menjawab secara jelas pertanyaan: "mengapa anak-anak?". Dengan menggunakan pendekatan dan proses partisipatoris, para peneliti dan pendamping anak-anak dapat mendapatkan pengalaman yang sangat berharga tentang bagaimana bekerja dengan anak-anak laki-laki maupun perempuan.

Buku ini menyajikan banyak contoh dari berbagai benua, bagaimana anak-anak bisa difasilitasi untuk mengungkapkan pendapat dan memaparkan realitas mereka dengan memakai berbagai media ungkap dalam rangka melenyapkan dominasi yang selama ini membungkam suara mereka.

Judul Asli:Stepping Forward
Penulis: Victoria Johnson, Edda Ivan-Smith, Gill Gordon, Pat Pridmore, Patta Scot
Penerjemah:Harry Prabowo dan Nur Cholis

Berikut Link Download Buku tersebut:

Lembar Penghargaan (PDF; 12kb)

Kata Pengantar 1: Partisipasi dan Anak-anak (PDF; 20kb)

Kata Pengantar 2: Anak sebagai Subyek Perubahan Sosial (PDF; 80kb)

Pendahuluan (PDF; 68kb)

Bagian 1: Sebuah Awal (PDF; 112kb)

Bagian 2: Etika Penelitian Bersama Anak-Anak (PDF; 176kb)

Bagian 3: Sebuah Proses (PDF; 456kb)

Bagian 4: Pengaruh Budaya terhadap Pandangan dan Sikap Anak (PDF; 200kb)

Bagian 5: Partisipasi Anak-Anak dalam Situasi Konflik dan Bencana (PDF; 132kb)

Bagian 6: Institusi dan Kekuasaan (PDF; 812kb)

Bagian 7: Anak-Anak sebagai Partisipan Aktif (PDF; 164kb)

Singkatan (PDF; 16kb)

Glosarium (PDF; 24kb)

Apendix 1 (PDF; 20kb)

Apendix 2 (PDF; 20kb)

Bibliografi dan Daftar Pustaka (PDF; 68kb)

Dari: http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-online-gratis-anak-anak-membangun.html